Jumat, 13 November 2009

MODIFIKASI PENGANTIN ADAT BEKASI

Tak diragukan lagi, pernikahan memiliki arti penting sebagai salah satu tahap inisiasi dalam kehidupan manusia. Pada hari yang dipenuhi hujan harapan, haru, dan doa bahagia itu, segala perhatian berpusat pada pengantin. Demikian istimewanya pernikahan itu, hingga dalam berbagai tradisi di belahan manapun dunia ini, selalu ada satu bentuk produk budaya yang khusus membedakan sang pengantin dari keseharian dan dari orang-orang lain, yakni busana pengantin, atau dalam istilah yang diambil dalam bahasa Sanskerta, Wiwahabusana.

Busana pengantin pada tiap masyarakat memiliki ciri khas yang membedakannya dengan masyarakat/ suku lain. Perbedaan adat istiadat, pandangan hidup, nilai filosofis, lingkungan, dan hubungan masyarakat tersebut dengan masyarakat lainlah yang memicu terjadinya perbedaan ini. Dari sinilah muncul keterkaitan antara busana pengantin dengan identitas kesukuan, yang memunculkan istilah pengantin adat. Proses pewarisan budaya memastikan identitas ini bergulir dari satu generasi ke generasi berikutnya, ditambah dengan pengukuhan nilai-nilai adat dan simbolisme yang membuatnya menjadi bagian dari tradisi.

Seiring dengan pergeseran zaman, terjadilah perubahan pada pola-pola pemahaman nilai tradisi pada anggota masyarakat. Termasuk di dalamnya adalah pada busana pengantin. Namun, bukan berarti masyarakat meninggalkannya begitu saja. Keinginan untuk tampil beda dan menjadi pusat perhatian masih menjadi hasrat pengantin pada hari yang disebut sakral itu. Sejalan dengan arus globalisasi, banyak orang justru mencari identitas asalnya, yang membuat orang kembali melirik pada keunikan tradisi. Namun, adat yang ribet dan seringkali terlalu mengekang membuat orang mencari alternatif berbusana pengantin pada hari istimewa itu, bagaimana tampil seindah mungkin, tidak terkesan kuno dan ribet, tetapi tetap menyisakan jejak tradisi. Inilah yang memunculkan istilah “pengantin adat modifikasi”

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, modifikasi berarti pengubahan atau perubahan. Sedangkan busana pengantin modifikasi dapat berarti busana yang bentuk dan cara pemakaiannya diangkat dari busana daerah Indonesia dan dikembangkan menjadi bentuk yang lebih modern (www.mudahmenikah.files.wordpress.com). Dalam masyarakat Indonesia, bentuk busana pengantin tradisional yang umum dijadikan sumber modifikasi ada tiga, yakni bentuk kebaya, baju kurung, dan kemben.

Ada beberapa alasan yang membuat seseorang lebih memilih busana pengantin modifikasi. Poin yang utama adalah pergeseran zaman seperti yang telah disebutkan di atas. Nilai-nilai simbolis yang ada pada pakaian adat pun berkurang seiring dengan merenggangnya ikatan adat. Ini membuat masyarakat merasa bebas menambah atau mengurangi unsur-unsur yang ada dalam busana pengantin adat.

Alasan kedua adalah pengaruh dunia luar. Sebenarnya, sejak awal mula pembentukan busana tradisional pun, unsur hubungan suatu masyarakat dengan masyarakat dunia luar selalu mempengaruhi pembentukan langgam busana dan kelengkapannya. Ini bisa terjadi karena keberadaan masyarakat asing yang berasimilasi dengan masyarakat lokal atau kontak sehari-hari dengan budaya asing. Namun, berbeda dengan masyarakst zaman dahulu, di zaman sekarang saat perubahan terjadi begitu cepat, kemampuan suatu produk budaya baru untuk mengkristalisasi makin berkurang sehingga tidak ada kesempatan untuk menjadi bagian dari tradisi. Bahkan di masyarakat modern ini, trend busana, yang biasanya berkiblat pada siklus musiman dunia fashion Barat, juga turut mempengaruhi gaya busana pengantin modifikasi.

Faktor ketiga adalah munculnya tata nilai baru. Sebagai contoh adalah busana pengantin muslimah. Pada adat tradisional Indonesia yang berkembang di zaman nenek-kakek kita, jarang sekali bahkan hampir tidak dikenal adanya pengantin yang mengulurkan hijabnya ke seluruh tubuh. Jikalau pun ada, terbatas pada masyarakat Arab atau keluarga yangs angat kental tradisi ke-Islam-annya. Trend ini baru berkembang luas di dekade 1990-an, awalnya dalam bentuk busana panjang dan longgar yang belakangan mengambil inspirasi dari busana gaun panjang ala Barat. Kini, seiring dengan melonjaknya pemakai kerudung dan keinginan untuk menjembatani antara tuntunan agama dan adat, bermunculanlah modifikasi busana pengantin adat berkerudung.

Hal lain yang tidak bisa dipungkiri adalah kreativitas masyarakat yang terus berkembang, serta kaitannya dengan peningkatan nilai jual. Peningkatan nilai jual ini dapat semata bersifat mencari untung, tetapi dapat juga diartikan sebagai upaya untuk terus mempromosikan adat dan melestarikannya dengan cara-cara yang bisa diterima oleh masyarakat modern. Contoh kreativitas tak terbatas ini adalah penambahan unsur-unsur hias busana, misalnya sulam pita, payet, permata, dan lain sebagainya. Atau dengan mengawinkan gaya busana tradisional dengan gaya asing, misalnya gaya Victorian, Rococo, atau gaya negeri Asia lain seperti Cina dan Jepang. Contoh pengusaha busana kebaya modifikasi yang sukses dengan kreativitas seperti ini adalah Anne Avantie, ardiyanto, Raizal Rais, Musa widyatmodjo, Etty Bachetta, Zainal Songket, dll.

Kendati tidak terbatas, setidaknya ada beberapa patokan untuk memodifikasi busana pengantin adat, khususnya pengantin Bekasi “Kembang Gede”, agar kesan tradisional Bekasi tetap terasa:

a. Memperhatikan nilai adat yg vital yang tidak boleh diubah. Jika dalam adat Jawa, cengkorongan adalah titik vital khas-nya, untuk Bekasi, sanggul jucung, toka-toka, dan asesoris berhias benang wol adalah poin penting yang menjadi titik khasnya, sehingga keberadaan ketiganya sebaiknya tidak diabaikan. Kendati demikian, bentuk hiasannya, misalnya detail pada toka-toka dan hiasan kepala, masih dapat dikembangkan.

b. Mempertahankan kekhasan adat. Jikalau pun asesori diubah, setidaknya ada suatu unsur menojol yang tetap mengesankan dari mana akar idenya, misalnya dari bentuk/potongan global busana, kain yang digunakan, atau nuansa paduan warna.

c. Sesuai tata nilai masyarakat setempat atau yang dianut.

Adapun proses modifikasi adalah dapat dengan menambah, mengurangi, melebih-lebihkan sebagian (aksen), mengawinkannya dengan kelengkapan dari budaya lain atau gaya yang lebih modern. Pengembangan desain busana dapat dari hiasan, misalnya dengan menambahkan payet, sulam pita, eksplorasi teknik hias, pemilihan bahan tekstil yang digunakan, maupun dari potongan dan desain detail busana. Untuk yang terakhir ini, sumber idenya dapat diambil dari mana saja, misalnya dari lingkungan sekitar, hal-hal unik dalam adat, sejarah suku tersebut, menggabungkannya dengan gaya asing/luar, maupun mengikuti trend busana yang sedang “in”.

Dengan berbagai pengembangan modifikasi busana pengantin Bekasi “Kembang Gede”, diharapkan dapat lebih memasyarakatkan busana pengantin Bekasi, yang digali dari kebudayaan asli masyarakat Bekasi, dan melestarikannya untuk generasi mendatang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar